Jumat, 26 Oktober 2007

Garis Edar


Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur'an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al Qur'an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Al Qur'an, 36:38)

Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur'an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.


Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley, sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya.

Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Qur'an sebagai berikut:

"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (Al Qur'an, 51:7)

Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam.

Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur'an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa "dipenuhi lintasan dan garis edar" sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur'an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur'an adalah firman Allah.

Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Pada tahap awal perkembangannya, bayi dalam rahim ibu berbentuk zigot, yang menempel pada rahim agar dapat menghisap sari-sari makanan dari darah ibu. Gambar di atas adalah zigot yang terlihat seperti sekerat daging. Informasi ini, yang ditemukan oleh embriologi modern, secara ajaib telah dinyatakan dalam Al Qur'an 14 abad yang lalu dengan menggunakan kata "'alaq", yang bermakna "sesuatu yang menempel pada suatu tempat" dan digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Jika kita terus mempelajari fakta-fakta yang diberitakan dalam Al Qur'an mengenai pembentukan manusia, sekali lagi kita akan menjumpai keajaiban ilmiah yang sungguh penting.

Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai "zigot" dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi "segumpal daging". Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.

Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur'an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur'an and Sunnah, s. 36)

Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur'an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata "'alaq" dalam Al Qur'an:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah." (Al Qur'an, 96:1-3)

Arti kata "'alaq" dalam bahasa Arab adalah "sesuatu yang menempel pada suatu tempat". Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Tentunya bukanlah suatu kebetulan bahwa sebuah kata yang demikian tepat digunakan untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur'an merupakan wahyu dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

ABU DZAR ALGHIFARI


Adalah Jundab, seorang pemimpin besar perampok yang melakukan teror di negeri-negeri di sekitarnya. Ia lahir dari keluarga perampok Ghiffar yang tinggal dekat jalur kafilah Mekkah - Syiria. Kemudian ia dikenal sebagai Abu Dzar.

Tapi Jundab pada dasarnya memiliki hati yang baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh serangannya kemudian menjadi suatu titik balik dalam perjalanan hidupnya. Ia bukan saja sangat menyesali segala perbuatan jahatnya, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya.

Titik balik kehidupan Abu Dzar ini sangat penting, karena Islam menerima anugerah, salah seorang tokoh revolusioner yang paling jujur.

Bersama ibu dan saudara lelakinya Anis, ia hijrah ke Nejed Atas. Disini menetap salah seorang paman dari pihak ibunya. Inilah hijrah Abu Dzar yang pertama dalam mencari kebenaran dan kebajikan. Tapi tempat ini pun dia tidak bisa tinggal lama. Ide-idenya yang revolusioner juga menimbulkan kebencian orang-orang sesuku, yang kemudian mengadukannya kepada sang paman. Kini giliran rumah pamannya yang terpaksa ia tinggalkan, mengungsi ke sebuah kampung dekat Mekkah.

Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai menentang pemujaan berhala. Dia berkata :"Saya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi Besar Islam."

Saudara lelakinyalah, Anis, yang pulang dari Mekkah membawa kabar datangnya fajar baru, agama Islam. Pada waktu itu ajaran Nabi Muhammad telah mulai mengguncangkan Mekkah dan membangkitkan gelombang kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Mendengar hal itu Abu Dzar, yang telah lama merindukan kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah SAW. dan ingin bertemu dengan beliau. Pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka'bah, sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran Nabi. Waktu itu kota Mekkah dalam suasana sling bermusuhan.

Ka'bah waktu itu masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana untuk bersembahyang. Pada akhirnya, seperti yang diinginkannya, Abu Dzar mendapat kesempatan bertemu dengan Nabi. Di sana dan pada saat itulah ia memeluk agama Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani.

Mengenyampingkan segala resiko, Abu Dzar secara terbuka memimpin sembahyang dan berkhutbah tentang agama Islam di Ka'bah. Benar saja pada suatu hari seorang penyembah berhala suku Quraisy menyerangnya dan untung dapat diselamatkan oleh Abbas, paman Nabi. Abbas mengingatkan si penyerang bahwa Abu Dzar anggota penting suku Ghiffar yang mendiami jalur perdagangan mereka ke Syria. Salah-salah lalu lintas perdagangan mereka bisa terancam. Keterangan ini sementara dapat menenangkan mereka.

Sejak saat itu Abu Dzar membaktikan dirinya kepada agama Islam dan kepada pendirinya. Ia segera mendapat tempat, bahkan termasuk yang terdekat dan terpercaya di antara para sahabat Nabi, yang sempat menimbulkan iri.

Abu Dzar ditugaskan Nabi mengajarkan agama Islam di kalangan sukunya sendiri. Dia pulang ke kampung halamannya dan sangat berhasil dalam tugasnya itu. Bukan hanya ibu dan saudara lelakinya Anis, tetapi hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkannya. Dia tercatat sebagai salah seorang penyiar agama Islam yang pertama dan terkemuka.

Nabi sangat menghargainya. Ketika kemudian dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam "Perang pakaian compang-camping", dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu. Pada waktu akan meninggal, Nabi memanggil Abu Dzar dan sambil memeluknya berkata :"Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya." Ucapan Nabi ternyata benar, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.

Abu Dzar dikenal gigih dalam mempertahankan prinsip egaliter Islam. Kesetiaannya pada dan penafsirannya mengenai "Ayat Kanz" (tentang pemusatan kekayaan) menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga. Ayat ini dalam "Surah Taubah" dalam Al-Qur'an berbunyi: "Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan di cap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis : Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun."

Ia menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Dia tidak dapat diajak berdamai berkenaan dengan tumbuhnya kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah. Menurut pendapatnya, adalah kewajiban orang Islam sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin. Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abu Dzar mengutip peristiwa semasa Nabi seperti yang diceritakan berikut ini:

"Pada suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abu Dzar, terlihat pegunungan Uhud, lalu beliau berkata kepada Abu Dzar: "Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah."

Abu Dzar hidup menurut cara yang dianggapnya benar dan menjalankan sendiri apa yang diajarkannya. Ia bersikap tanpa kompromi terhadap kapitalisme, terhadap orang yang berkedudukan tinggi sekalipun. Abu Hurairah adalah sahabat Nabi yang namanya masyhur yang diangkat sebagai gubernur Bahrain. Suatu hari, ia datang mengunjungi Abu Dzar, tapi yang dikunjungi menolak bertemu pada mulanya. Ketika ditanyakan mengapa dia begitu jengkel kepada Abu Hurairah, tercermin dalam tanya jawab berikut:

"Anda telah diangkat sebagai gubernur Bahrain." "Benar," jawab Abu Hurairah. "Di sana Anda tentunya telah membangun rumah seperti istana dan membeli sebidang tanah yang luas," tambah Abu Dzar. "Tidak benar itu," jawab Abu Hurairah lagi. "Kalau begitu Anda adalah saudaraku," kata Abu Dzar kemudian dan langsung memeluknya.

Selama pemerintahan dua khalifah pertama, ajaran Abu Dzar tidak pernah mendapat tantangan. Dia hidup tenteram dan dihormati semua orang. Kesulitan timbul pada masa pemerintahan khalifah ketiga.

Ketika Abu Dzar pindah ke Syria, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara melimpah ruah. Ajaran egaliter Abu Dzar telah membuat bangkitnya masa melawan mereka. Ia menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan setempat. Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, yang bernama al-Khizra, ia ditegur Abu Dzar:

"Kalau anda membangun istana ini dari uang negara, berarti anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan 'israf' (pemborosan)." Muawiyah hanya bisa terpesona dan tidak dapat menjawab.

Muawiyah berusaha keras agar Abu Dzar tidak meneruskan ajarannya, tapi sang penganjur egaliterisme tetap tegar pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abu Dzar dan ahli-ahli agama Islam, tapi pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya. Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajarannya. Tapi ternyata rakyat berduyun-duyun meminta nasehat Abu Dzar. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abu Dzar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.

Abu Dzar segera dipanggil menghadap khalifah di Madinah. Pergi memenuhinya, ia masih jauh di luar kota, ketika penduduk Madinah telah keluar menyongsongnya. Sahabat Nabi itu menerima ucapan selamat datang yang hangat.

Di Madinah Abu Dzar juga tidak dapat hidup tenteram. Sebagian orang-orang kaya kota mengkhawatirkan aktivitasnya yang menganjurkan pemerataan penyaluran harta kekayaan.

Akhirnya khalifah menyelenggarakan diskusi tentang masalah itu, yang mempertemukan Abu Dzar dengan Ka'ab Ahbar, seorang terpelajar. Dalam kesempatan itu, Ka'ab Ahbar mempertanyakan apa yang diinginkan dengan mempertahankan hukum warisan dalam yurisprudensi Muslim, padahal Islam tidak mengizinkan penumpukan harta. Masalah ini sesungguhnya berada di luar pokok persoalan. Seperti yang di duga, diskusi tidak membawa hasil. Usman kemudian meminta Abu Dzar meninggalkan Madinah untuk tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil yang terletak di jalur jalan Irak - Madinah. Musuh-musuh Islam, seperti Abdullah ibn Saba, mencoba memanas-manasi keadaan dengan memberontak kepada khalifah. Abu Dzar justru menjadi marah dan berkata:

"Walaupun Usman menggantungku di bukit yang paling tinggi sekalipun, aku tidak akan mengangkat jariku untuk melawannya,"

Seperti layaknya Muslimin sejati, Abu Dzar tunduk pada pemerintah pusat kekuasaan Islam. Dia melaksanakan perintah pindah ke Razba dan meninggal di sana pada tanggal 8 Dzulhijjah tahun 32 H. jasadnya terbaring di jalur kafilah, dan hanya ditunggui jandanya. Tampaknya tidak ada seorang pun yang membantu menguburkannya. Tiba-tiba di kaki langit muncul sebuah kafilah haji yang sedang menuju ke Mekkah. Ketika diberitahukan itulah mayat Almarhum Abu Dzar, sahabat Nabi yang terpuji, mereka segera memutuskan berhenti di sana. Jenazah Abu Dzar mereka sembahyangkan dipimpin Abdullah ibn Mas'ud, seorang sarjana Islam yang terkenal, untuk kemudian dikuburkan.

Demikianlah akhir hidup sahabat Nabi yang terpercaya itu, yang dengan gigih mengajarkan dan melaksanakan semangat jiwa sosial yang sejati.

Ali R.A. pernah berkata: "Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abu Dzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali."

Sumber: SERATUS MUSLIM TERKEMUKA, Jamil Ahmad

Kamis, 25 Oktober 2007

Segala Sesuatu Yang Kita Miliki Merupakan Karunia Allah

Dunia di mana kita hidup, Allah menganugerahkan banyak pertolongan bagi manusia. Semua kebutuhan makhluk hidup disediakan dengan mudah; tiada sesuatu apapun yang terlewat.

Sebagai contoh; mari kita berpikir tentang diri kita. Dari saat kita bangun tidur, kita memerlukan banyak hal dan menemukan beragam keadaan. Singkatnya, kita dapat bertahan hidup karena banyaknya pertolongan yang dilimpahkan kepada kita.

Kita mampu bernapas; segera setelah kita bangun tidur. Kita tidak pernah mengalami kesulitan dalam melakukannya, hal tersebut disebabkan oleh karena sistem pernafasan kita dapat berfungsi dengan baik.

Kita mampu melihat; segera setelah kita membuka mata kita. Pemandangan yang jauh serta jelas, semuanya dalam bentuk tiga dimensi dan penuh dengan warna-warni, dapat dilihat dengan mata kita, tentu saja hal ini disebabkan oleh karena desain mata kita yang unik.
Kita mencicipi beragam rasa. Kebutuhan yang berbeda-beda akan vitamin, mineral, karbohidrat atau protein yang terkandung dalam makanan yang kita makan, serta bagaimana kelebihan nutrisi ini disimpan atau digunakan di dalam tubuh tidak pernah merisaukan kita. Lagi pula, kita hampir tidak pernah memikirkan bahwa terjadi proses yang rumit di dalam tubuh kita.

Ketika kita memegang suatu benda dengan tangan kita, kita langsung dapat mengetahui apakah benda tersebut lembut atau keras. Terlebih lagi, kita tidak perlu berpikir untuk melakukan hal ini. Banyak hal-hal kecil seperti itu yang terjadi dalam tubuh kita. Organ-organ tubuh yang bertanggung jawab untuk melaksanakan hal-hal ini mempunyai mekanisme yang rumit. Fungsi tubuh manusia hampir sama seperti sebuah pabrik yang besar dan kompleks. Tubuh ini merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia semenjak manusia menjadi khalifah di muka bumi ini.

Dalam hal ini, ada sebuah pertanyaan yang perlu dijawab: bagaimanakah bahan baku yang diperlukan untuk mengoperasikan “pabrik” ini disediakan? Dengan kata lain, bagaimana air, udara, dan semua nutrisi yang penting untuk kehidupan tersedia?

Mari kita berpikir tentang buah-buahan dan sayur-sayuran. Semangka, melon, ceri, jeruk, tomat, lada, nenas, murbei, anggur, terong...semuanya berasal dari biji-bijian dan tumbuh dalam tanah, dan biji-biji tersebut kadang-kadang memiliki struktur yang keras seperti kayu. Walaupun demikian, sambil mempertimbangkan hal-hal ini, kita harus menjauhi kebiasaan cara berpikir dan menerapkan metode yang berbeda. Dengan membayangkan nikmat rasa serta bau buah arbei atau bau buah melon yang tidak pernah berubah. Pikirkan, berapa banyaknya waktu dan energi yang dihabiskan dalam laboratorium guna menghasilkan bau yang sama dan tentang percobaan-percobaan yang berulang kali dilakukan tetapi selalu gagal. Tentu saja, hasil yang diperoleh oleh para ilmuwan di dalam laboratorium membuktikan bahwa tidak ada yang lebih baik selain imitasi gagal mereka; apabila dibandingkan dengan pasangan alamiahnya. Beragam rasa, bau dan warna di alam justru memberikan tanda-tanda yang tak tertandingi.

Bahwa semua sayuran dan buah-buahan memiliki bau dan rasa tersendiri serta mempunyai ciri khas warna yang berbeda-beda merupakan hasil kreasi yang diciptakan khusus untuk mereka. Hal itu semua merupakan karunia yang diberikan Allah atas manusia.
Hampir sama dengan hal di atas, binatang juga diciptakan untuk manusia. Terlepas dari kegunaannya sebagai makanan, manusia melihat bahwa bentuk fisik binatang-binatang tersebut memberikan daya tarik tersendiri. Ikan, batu karang, bintang laut yang menghiasi kedalaman laut dengan warna-warnanya yang indah, beragam burung yang habitatnya memesonakan atau kucing, anjing, lumba-lumba dan penguin...mereka semua merupakan karunia Allah. Allah menekankan hal ini dalam banyak ayat:

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. 45:13)

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 16:18)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:34)

Makhluk hidup yang telah dijelaskan di atas hanyalah merupakan sebagian kecil dari karunia dan keindahan yang Allah limpahkan. Ke mana saja kita berjalan, kita melintasi hasil ciptaan yang mencerminkan tanda-tanda kebesaran Allah. Allah adalah Maha Pemberi Rezeki, Maha Halus, Maha Dermawan, Maha Baik.

Sekarang, lihatlah sekeliling anda dan berpikirlah. Dan jangan pernah menafikan kenyataan bahwa segala sesuatu yang anda miliki merupakan karunia untuk anda dari sang Pencipta diri anda.

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. 16:53)