Senin, 14 Juli 2008

Imam Bukhori Dan Buah Karyanya



Shohih Bukhori merupakan karya terbesar dan terpenting di bidang hadits. Inilah jasa dan tinggalan beliau yang agung dan sangat penting bagi izzul Islam wal muslimin. Dan sejak dulu sampai sekarang kitab Shohih Bukhori ini bila dibaca secara berjamaah ada khasiat dan berkahnya, seperti untuk menangkal musibah dan memulihkan keselamatan kembali. Pembacaan kitab Bukhori dengan tujuan ini sampai sekarang masih tetap berlaku. Menyebut nama beliau (Imam Muhammad bin Ismail al Bukhori) saja sudah bisa meminta turunnya rahmat ilahi sebagaimana kata Imam Sya’roni.
Imam Bukhari mempunyai nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al-Ju'fi Al-Bukhari. Karena mempunyai putra tertua yang bernama Abdullah, maka sebagaimana kebiasaan, beliau juga dikenal dengan julukan Abu Abdullah. Sedangkan nama beliau yang masyhur, Bukhari, hal ini dinisbatkan kepada desa tempat kelahiran beliau. Imam Bukhori dilahirkan pada hari Jum'at 13 Syawal 194 H (810 M), di desa Bukhara, Uzbekistan. Walau tak sepopuler anaknya, Ismail ayah Bukhari, termasuk ulama di bidang hadits. Sewaktu menunaikan ibadah haji, Ismail menyempatkan menemui Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan lain-lain yang terkenal sebagai ulama ahli hadits pada masanya. Bukhari tak pernah mengenyam pendidikan dari ayahnya, karena dalam usia 5 tahun, ia telah yatim. Sejak kecil, Bukhari dibimbing dan dididik untuk mencintai ilmu, terutama melalui buku-buku peninggalan ayahnya sendiri. Disamping bersekolah sebagaimana anak muslim lainnya, di rumah ia menjadi kutu buku, berkat bimbingan ibunya. Di usia 10 tahun, Muhammad Bukhori yang ditopang kecerdasan dan daya ingat yang diatas rata-rata anak yang lain, mulai menghafal dan menganalisa hadits dengan antusias. Beberapa tahun kemudian, ia merasa kurang dengan sekedar berguru di desa dan menggali buku peninggalan ayahnya. Untuk mengurangi rasa penasarannya dan keinginan yang kuat untuk menambah ilmu, Muhammad Bukhori mulai mendatangi tokoh-tokoh ahli hadits di sekitar desanya. Dalam usia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail Al Bukhori mulai dikenal khususnya di kalangan ulama hadits sebagai pemuda yang cerdas. Saat itu ia telah banyak menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an (menurut sumber lain menghafal seluruhnya) dan menghafal beberapa buku hadits yang ditulis oleh Al- Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Imam Waki', yang terkenal sebagai ahli hadits pada masa itu. Pada tahun 210H (menurut riwayat lain 216H), Muhammad Bukhori diajak ibunya untuk pergi haji. Ia menyambut gembira ajakan ini, karena apa yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu berkelana mencari para ulama ahli hadits akan menjadi kenyataan dengan kepergiannya ke Mekkah. Saat musim haji tiba, Muhammad beserta saudaranya, Ahmad, berangkat menuju Mekkah. Kepergiannya kali ini dapat dikatakan awal perjalanan pengembaraannya mencari hadits. Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, ketika Ahmad dan ibunya kembali, Muhammad memilih untuk menetap lebih lama di Mekkah. Selama tinggal di Mekkah, Muhammad berguru kepada para ulama ahli hadits pada masa itu, seperti Al-Walid, Al-Azraqi, Ismail bin Salim dan lain-lain. Tak lama kemudian ia mengunjungi kota Madinah, untuk menemui para anak cucu sahabat Nabi SAW. Selama bermukim di Madinah setahun, ia sempat menulis dua buku yang berjudul Qadhaya Ash-Shahabah wa At-Tabi'in dan At-Tariikh Al-Kabiir. Kedua buku itu ditulis saat ia berusia 18 tahun, dan keduanya merupakan karya pertama dari penulis yang cukup produktif ini.

Berawal dari Mekkah dan Madinah, akhirnya Muhammad memulai pengembaraan panjangnya menemui para ulama hadits. Pada masa itu, pencarian hadits hingga ke kota bahkan negara lain telah dilakukan oleh para ulama, tapi Muhammad tercatat sebagai orang pertama yang lawatan dan pencariannya terluas. Syam, Baghdad, Wshit, Basrah, Kufah, Meir, Maru, Asqalan, Rei, Maisabur, Himsha, Khurasan dan masih banyak lagi daerah lain yang sempat dikunjunginya. Pengembaraan panjang yang terkadang hilir mudik ini, memakan waktu selama 16 tahun. Lebih dari seribu ahli hadits sempat ditemuinya, dan sekaligus menjadi guru dan perawi hadits yang dihimpunnya. Dari jumlah tersebut, dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok, dan hampir kesemuanya termasuk ulama dan juga ahli hadits. Selama masa perlawatan, Muhammad sempat menulis beberapa buku, khususnya mengenai permasalahan hadits yang disenanginya sejak kecil. Diantara buah tangannya adalah : Al-Adab Al-Mufrad, Ra'fu Al-Yadain fii As-Shalah, Birru Al-Walidain, At-Taariikh Al-Ausat, Ad-Dhuafa', Al-Asyribah, Al-Hibah, dan lain-lain. Dan dari sekian banyak karyanya, Al-Jami As-Shahihlah yang melambungkan nama Imam Bukhari. Setelah melewati masa pengembaraan selama 16 tahun, Imam Bukhari berhasil menghimpun sekitar 600.000 hadits yang diperolehnya dari puluhan negeri dan ribuan guru. Setelah diadakan penyeleksian, menurut perhitungan Ibnu Shalah dan Imam Nawawi, terjaring 7.275 hadits yang dianggap shahih. Jumlah ini termasuk pengulangan, sedangkan bila tanpa pengulangan tercatat sekitar 4.000 hadits. Menurut perhitungan Al-Imam Al-Hafidz adalah sebanyak 7.397 hadits, sedang bila tanpa pengulangan sebanyak 2.602 hadits. Ada juga ulama lain yang berbeda pendapat dari jumlah diatas. Sedang bila melihat kitab Shahih Bukhari terbitan Dahlan, Bandung, yang urutan haditsnya diberi nomor, kesemuanya berjumlah 7.108 hadits.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Bukhari berkata : "Kutulis kitab ini dari 1.080 orang yang kesemuanya ahli hadits, dan kesemuanya mengatakan bahwa iman itu adalah kata dan perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang. Kalau aku hendak menuliskan sebuah hadits di dalam kitab Shahih, maka sebelum memegang pena, aku mandi terlebih dahulu dan sholat 2 rakaat sebagai perwujudan rasa syukur kehadirat ilahi." Pada masa berikutnya muncul ulama yang mensyarah (menerangkan maksud, memperjelas dan mengomentari) hadits yang termaktub di dalam kitab Shahih Bukhari. Hingga kini lebih dari 100 syarah telah disusun oleh para ulama. Dari sekian banyak syarah, yang terkenal diantaranya adalah : Fathu Al-Baari, oleh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-'Asqalani (wafat tahun 853 H). Irsyadu As-Saari, oleh Ahmad bin Muhammad Al-Mishri Al-Qashthalani (wafat tahun 923 H). 'Umdatu Al-Qaari, oleh Al-'Aini (wafat 855 H). At-Tawsyih, oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan lain-lain. Dari semua kitab syarah yang ada, Fathu Al-Baari lah yang paling bagus, hingga digelari dengan "Raja Syarah Bukhari". Selain syarah, masih terdapat beberapa kitab yang men-ta'liq (memberi komentar/penjelasan pada bagian-bagian tertentu). Dan ada juga yang meringkas atau yang biasa disebut dengan mukhtashar, seperti :
At-Tajridu As-Shahih, oleh Al-Husain bin Al- Mubarak (wafat tahun 631 H), At-Tajridu As-Shahih, oleh Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Asy-Syiraji Az-Zabidi (wafat 983 H), dan lain-lain.

Kira-kira seabad setelah kitab Shahih Bukhari tersusun, muncullah segelintir ulama hadits yang mengkritik isi kitab tersebut. Diantaranya Al-Daaraqutni (wafat 385 H), Abu Ali Al-Ghassani (wafat 365 H), dan lain-lain. Kritikan para ulama ini (yang tertuju tidak lebih dari 100 hadits) dari sudut pandang ilmu-ilmu hadits, yang menurut mereka, terdapat juga di dalamnya (Shahih Bukhari) hadits yang dhoif. Namun 3 abad setelah kritikan diatas, justru muncullah ulama hadits yang membela dan membantah kritikan ulama sebelumnya. Bahkan Ibnu Shalah (wafat 643 H) mengomentari kitab Shahih Bukhari sebagai afshah al-kutub ba'da Al-Qur'an (kitab yang paling shahih /otentik setelah Al- Qur'an). Pendapat ini juga didukung oleh ulama setelahnya, seperti Imam Nawawi (wafat 852 H), Ibnu Hajar (wafat 852 H) dan lain-lain yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama Ahlus Sunnah. Pada perkembangan selanjutnya, muncul bantahan atas kritik yang pernah ditujukan terhadap kitab Shahih Bukhari. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula kritikan baru, baik dari para orientalis maupun umat Islam sendiri, seperti : Muhammad Al-Ghazali (bukan Imam Ghozali pengarang kitab Ihya, pen), Ahmad Amin, dan lain-lain. Yang perlu dicermati, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara kritik ulama terdahulu dengan yang datang kemudian. Ulama terdahulu mengkritik dengan mengacu kepada ilmu-ilmu hadits, sedangkan pengkritik setelahnya dan terutama akhir-akhir ini, hanya berdasarkan logika atau juga akal mereka masing-masing. Diakui ataupun tidak, baik secara langsung maupun tidak, sedikit banyak mereka terpengaruh dengan para orientalis atau pola pikir mereka. Terhadap kritikan ulama terdahulu pun, yang mengkritik sesuai dengan ilmu-ilmu hadits, menurut penyelidikan ulama sesudahnya tidak terbukti. Karena mereka mengembalikan dan mencocokkan kembali terhadap hadits-hadits yang dikritik. Mereka berkesimpulan bahwa seluruh hadits yang terdapat di kitab Shahih Bukhari semuanya adalah shahih. Dan satu hal lagi yang perlu kita ingat, kepopuleran Shahih Bukhari bukan muncul begitu saja dan sejak semula, tapi justru setelah mendapat kritik. Dengan kata lain, julukan yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama hadits ini, lahir setelah mendapat pengujian dan pengujian lagi. Dan tentu saja setelah terbukti kritikan yang diarahkan kepadanya adalah tak berdasar, atau juga tidak tepat. Dalam masalah ini, H. Ali Mustafa Yaqub didalam bukunya mengutip keterangan Imam Nawawi yang berkata : "Kritikan Daaraqutni dan yang lainnya itu hanyalah berdasarkan kritikan-kritikan yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadits yang justru dinilai lemah sekali ditinjau dari ilmu hadits." Satu hal terpenting dalam urusan hadits adalah rawi atau periwayat suatu hadits. Dari puluhan ribu hadits Rasulullah SAW yang sampai pada kita, kesemuanya melalui rawi berantai hingga kepada Nabi SAW. Pada umumnya, seluruh sahabat menerima hadits dari Nabi SAW, namun berfariasi dalam jumlah. Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka ada yang tinggal di desa, ada yang sering berniaga/bepergian, ada yang selalu meluangkan waktu di masjid dan lain-lain. Yang perlu kita ingat juga, hadits-hadits yang ada terbanyak diterima para sahabat dari ucapan atau tindakan Nabi yang disampaikan di berbagai tempat dan situasi. Sedang hadits yang diterima dalam suatu majlis resmi seperti khutbah Jum'at, 'id dan sejenisnya adalah tergolong sedikit. Kesemua alasan diatas membuat mereka bervariasi dalam menerima jumlah hadits. Selain itu terdapat juga faktor-faktor tertentu yang membuat seseorang sahabat mendengar banyak hadits, diantaranya adalah : lebih dahulu masuk Islam, selalu menyertai Nabi, erat hubungannya dengan Nabi, kuat hafalannya, berusia lanjut sepeninggal Nabi, hingga mendengar juga hadits dari para sahabat dan lain-lain.

Dari sekian banyak Sahabat, yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits adalah :
1. Abu Hurairah (19 SH - 59 H). Beliau meriwayatkan sebanyak 5.374 hadits, namun menurut penyelidikan terakhir, jumlah yang benar hanya 1.236. Sedang jumlah hingga lebih dari 5.000, termasuk jumlah jalur periwayatannya. Dari seluruh hadits yang diriwayatkannya, Imam Bukhari hanya mengambil 419 hadits (7,7% bila diyakini beliau meriwayatkan 5.374). Sedangkan prosentase hadits di kitab Shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah adalah sekitar 6%.
2. Abdullah Ibnu Umar (10 SH - 73 H). Beliau meriwayatkan sebanyak 2.630 hadits, dan diambil oleh Imam Bukhari sebanyak 249 hadits (9,4%).
3. Anas bin Malik (10 SH - 93 H). Beliau meriwayatkan 2.286 hadits, sedangkan yang diambil oleh Imam Bukhari sebanyak 248 hadits (10%).
4. Aisyah (9 SH - 58 H). Beliau meriwayatkan 2.210 hadits, 248 diantaranya diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
5. Abdullah Ibnu Abbas (3 SH - 68 H). Beliau meriwayatkan 1.660 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 195 (11,7%).
6. Jabir bin Abdullah (6 SH - 78 H). Beliau meriwayatkan 1.540 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 86 hadits (5,5%).
7. Abu Sa'id Al-Khudri (12 SH - 74 H). Beliau meriwayatkan 1.170 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 59 hadits (5%).

Ketujuh nama diatas, memang terkenal sebagai periwayat terbanyak, termasuk di dalamnya Shahih Bukhari. Sedangkan nama-nama yang lainnya yang juga diambil periwayatannya oleh Imam Bukhari diantaranya : Sayyidina Abu Bakar : 17 hadits, Sayyidina Umar : 60 hadits, Sayyidina Utsman : 11 hadits, Sayyidina Ali : 29 hadits, Abdullah Ibnu Mas'ud : 85 hadits, Abu Musa Al-Asy'ari : 53 hadits, Al-Barraa' Ibnu 'Azib : 38 hadits, Imaran Ibnu Hushain : 12 hadits, Hudzaifah bin Al-Yaman : 20 hadits, Abu Dzar Al-Ghifari : 14 hadits, Sa'ad bin Abi Waqqash : 20 hadits, Asma' binti Abu Bakar : 28 hadits, Ummu Salamah : 16 hadits, Maimunah binti Al-Harits : 11 hadits dan nama-nama lainnya yang jumlahnya mencapai ratusan.

Para sahabat Nabi SAW tergolong sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Begitu juga para ulama pengambil hadits. Mengenai hal ini diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari pernah menempuh jarak ratusan mil untuk menemui seorang perawi hadits. Saat tiba di lokasi, ternyata si perawi sedang sibuk mengejar seekor kudanya. Orang itu mendekati kudanya sambil membawa sebuah ember seolah ingin memberi makan, padahal ember itu kosong dari makanan. Melihat pemandangan ini, Imam Bukhari membatalkan niatnya untuk mengambil hadits dari orang itu. Ia beranggapan, bila terhadap binatang saja ia berlaku tidak jujur, dia pun bisa berlaku yang sama dalam meriwayatkan hadits. Masalah kehati-hatian dalam meriwayatkan hadits, tergambar dalam ucapan Anas bin Malik yang setiap meriwayatkan sebuah hadits, beliau berucap, "Au kamaa qaala" (yang artinya "atau sebagaimana yang disabdakan"). Hal ini karena kekhawatiran berbeda lafadz dengan apa yang disabdakan oleh Nabi SAW. Zaid bin Arqam setelah berusia lanjut, apabila ditanya tentang suatu hadits, beliau menjawab, "Kami telah tua dan banyak lupa, sedangkan menerangkan hadits adalah tugas yang sangat berat." Asy-Sya'by berkata, "Saya pernah duduk setahun lamanya di majlis Ibnu Umar, namun tak satu hadits pun yang kudengar darinya." Sedang mengenai Abu Hurairah yang melazimi Nabi hanya 3 tahun, namun meriwayatkan terbanyak, beliau berucap, "Aku menerima banyak hadits, karena aku senantiasa berada disamping Rasulullah SAW. Aku tidak berdagang, tidak bertani dan seluruh waktuku kupergunakan untuk menghafal hadits." Mengenai daya ingat para Sahabat dan khususnya Abu Hurairah ini sangat makruf di dalam sejarah. Bahkan diriwayatkan, bahwa beliau mendapat doa khusus dari Rasulullah agar kuat hafalannya. Gubernur Marwan pernah menguji hafalan Abu Hurairah. Beliau dipanggil dan disuruh menyampaikan hadits, sementara sekretaris Marwan menulis seluruh hadits yang disampaikannya. Setahun kemudian, beliau dipanggil lagi untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikannya tentang hadits. Sekretaris Marwan bersembunyi sambil mencocokkan apa yang pernah ditulisnya setahun yang lalu. Dan ternyata tak satu pun hadits yang terlewati, atau juga yang salah. Kekuatan hafalan ini juga dimiliki oleh Imam Bukhari. Sewaktu beliau datang ke Baghdad, para ahli hadits disana ingin mengujinya dengan memutar-balikkan perawi dari 100 hadits. Setelah mereka selesai mengacaukan perawi-perawi 100 hadits tersebut, Imam Bukhari mampu merangkai kembali dan menunjukkan kesalahan mereka satu per satu hingga selesai 100 hadits. Imam Bukhari yang setiap malam bulan Ramadhan menyelesaikan 1/3 Al-Qur'an dan tiga hari katam sekali dan setiap khatam lalu berdoa dan sabdanya setiap satu khataman aku berdo’a dan dikabulkan. Beliau juga berkata : “Aku ingin bertemu dengan Allah (mati) dalam keaadaan bebas dari segala tuntutan, maka aku tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain. Beliau wafat pada malam 1 Syawal 256 H (870 M), di Khartanak, Samarqand. Semoga Allah SWT meridhoi beliau, dan melimpahkan barakahnya kepada kita semua. Aaamiin.

Diambil dari Sejarah Singkat Imam Bukhari dan Karyanya Shohih Bukhori, Habib Muhsin bin Muhammad Aljufri & Habib Abdurrahman Alhaddad.


sumber : http://www.almihrab.com

Minggu, 13 Juli 2008

Islam pilihan terakhir Aquil





Oleh : Al Shahida
image'Tatkala kecil ia dimasukkan ke 'Sunday School'. Tapi ia berhenti karena bosan. Mencoba menjadi pengunjung gereja Anglikan, lagi-lagi ia kecewa. Lalu mencoba dengan Kristen spiritual, di situ ia tadak menemukan apa apa. Aquil mencoba mengikuti ritual Budha, secara fisik ia merasakan goncangan namun jiwanya masih merasa kosong. Lewat kebaikan Ibraim teman sekerjanya, serta melalui research dan dari bacaan literatur ISLAM, akhirnya Aquil menemukan Islam sebagai pilihan terakhir.

"Bulan Suci Ramadhan adalah sesuatu yang ingin saya alami sebelum saya memutuskan memeluk agama Islam” ujarnya. Ia mengatakannya di acara buka bersama.

"Sis ini titipan dari Lina, lumayan buat buka puasa," Aquil menyerahkan satu baki penganan manis. "Istri saya mengalah, tinggal di rumah, nemani anak kami berbuka puasa," begitu Aquil mengatakan.

Saya tanyakan bagaimana rasanya menjalankan ibadah shaum. "Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang kelima, insya Allah," ujarnya dengan rasa bangga dan bahagia. Aquil, adalah bule Inggris yang hadir pada acara buka bersama di pengajian di Islington London Timur.

Sambil menunggu teman-teman pengajian lainnya, ia lanjut bercerita bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu ia nantikan dan ia ingin melakukan shaum, dan ia sangat menikmatinya, tambahnya lagi. Ternyata ia telah melakukan 2 kali puasa pada 2 ramadhan walau ia belum memeluk agama Islam.

"Saya melakukan shaum dua kali sebelum saya mengikarkan syahadat pada tanggal 2 Juli 2003. Jadi saya sudah melakukan shaum dan saya merasakan dan tahu seperti apa indahnya berpuasa," tambahnya.

"Bagaimana kamu bisa melakukan puasa sedang kamu engga biasa melakukannya?"

"Bila seseorang ingin mengerjakan sesuatu dengan keyakinan dan penuh semangat, maka apapun bisa terjadi. Saya sangat menanti bulan suci ramadhan. “If one wants to do something with conviction and true spirit, then anything is possible and I look forward to the Holy month each year," jawabnya.

"Saya telah mendapatkan banyak pelajaran dari bulan ini. Ramadhan telah banyak memberi barakah berupa kabahagiaan yang sukar digambarkan," tambahnya.

Aquil mengatakan bahwa baginya Islam telah membuatnya bisa memaknai dan arti hidup yang sesungguhnya. "KeIslaman saya bertambah meningkat dan telah banyak memberi manfaat buat diri saya baik secara fisik dan mental' tambahnya begitu yakin."

Hingga hari ini Aquil masih meyembunyikan nama aslinya. Pria yang bekerja di perusahaan kereta bawah tanah atau London Underground sering meminta tak menertawakan perihal pekerjaannya.

"Please don't lough sister…" pintanya.

Padahal sering saya tersenyum mendengar permintaannya. Apa salahnya bekerja di London Underground?

Perbincangan kian menarik dengannya kala itu.

"Tapi memang repot dan berat ya sis, di saat kita memutuskan untuk pindah agama. Saya betul betul dihantui oleh perasaan takut. Takut kehilangan keluarga dan saudara, teman dekat.

Apa yang bakal terjadi kalau saya pindah agama, apa kata teman-temanku..? Hal ini terus menggelayut dikepala saya, sis. Ada rasa bingung dan ragu. Tapi lantas saya menyadari…kenapa kita sibuk dan repot memikirkan apa kata orang ? Seakan kita cuma mau menyenangkan dan mencari ridho manusia, kalau begitu saya belum yakin. Ah, saya kira itu wajar karena kehidupan kita berada dilingkungan manusia."

Itulah hal-hal sekelumit keluhannya. Namun, sampai hari ini, brother Aquil, begitu saya sering memanggilnya terus mempelajari Islam baik lewat bacaan, diskusi dengan teman Muslimnya sampai suatu hari ia memutuskan untuk bersyahadat.

Dan memang benar. Setelah ia memeluk Islam, banyak teman-teman dekatnya menjauhkan diri.

"Saya memang kehilangan teman dan sahabat setelah saya nyatakan bahwa saya masuk Islam. Saya sempat bersedih, namun tidak lama. Ada pepatah mengatakan "Yang pergi dan datang silih berganti". Teman dan sahabatku memang pergi meninggalkan saya. Namun Allah maha Adil dan Pengasih yang pergi tergantikan oleh yang terbaik. Ini terbuktikan. Ternyata teman dan sahabat Muslim saya jauh lebih baik. Persahabatan dan kebaikan mereka murni karena Allah, bukan karena kepentingan lainnya," ujarnya.

Percakapan kami terputus karena teman-teman pengajian mulai berdatangan dan pengajianpun dimulai. Mereka semua duduk bersimpuh, di ruang yang begitu sempit. Duduk berdesakan. Kadang antar kaki beradu, saat mereka ingin meregangkan kaki mereka. Maklum mereka belum terbiasa duduk berlama-lama dilantai . Aquil berjanji untuk melanjutkan cerita dan perjalanannya menuju Islam.

Pra Islam
Aquil dulunya bekerja di Angkatan Udara Britania atau Royal Air Force. Salah satu koleganya kala itu adalah Muslim. Ia cukup dekat dan akrab. Mereke sering terlibat banyak diskusi dan perdebatan politik atau kejadian-kejadian terkini. Bahkan terlibat diskusi tentang agama.

"Di sinilah saya berkenalan dengan agama Islam, saya tidak tahu dan berfikir kalau agama ini akan memberikan banyak pengaruh besar pada kehidupan saya, " kenangnya.

Kala itu, ia sedang mengambil diploma kursus councelling di mana diantara peserta adalah dua Muslimah. Salah satu diantara mereka mengenakan jilbab dan satunya lagi tidak. Saat itu Aquil begitu sinis dan tidak suka melihat perempuan berjilbab.

Aquil dibesarkan dengan tradisi Kristen yang kental. Sejak kecil ia diwajibkan sekolah mingguan pada hari Minggu (semacam Madrasah untuk Islam) oleh bapak dan ibunya.

Tapi itu hanya berjalan sebentar. Ia mengaku tidak mendapatkan manfaat apa-apa dan merasa bosan. Sejak itu ia behenti.

Kondisi ini terus berjalan sampai besar. Di saat sudah bekerja di Angkatan Udara ia merasa tak pernah nyaman datang ke gereja.

"Kunjungan saya yang terakhir ke gereja adalah saaat saya ditempatkan di RAF Beson di Oxfordshire."

Pastur yang kebetulan berkulit putih kala itu, membuat sebuah selorohan (gurau) kepada para jemaah yang kebetulan sudah jelas tidak berkulit putih. Ia merasa betul-betul menjijikan. Sejak itu saya tidak pernah lagi kesana. Kapok!.

Sampai suatu hari, sang pastur bertanya kepadanya kenapa ia jarang terlihat ke gereja. "Saya pergi ke gereja lainnya, jawabnya. Ia berkesimpulan bahwa gereja itu bukan rumah Tuhan yang menghidupkan hati atau ruh dimana dirinya berharap bisa mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Sejak insiden itu, ia malah datang ke gereja hanya untuk upacara perkawinan atau acara penguburan (funeral).

Dari gereja satu ke gereja lain. Itulah pekerjaannya. Ia akhirnya terlibat kelompok Kristen spiritual. Kunjungan pertamanya ke gereja itu dirasa sangat menakutkan.

"Saya ingat merasakan ketakutan yang luar biasa. Bayangkan saya sudah bisa jadi perantara, tukang tenung dan bahkan sudah bisa menyembuhkan orang sakit. Satu hal yang menarik pada kelompok ini adalah anggotanya boleh dari berbagai latar belakang, warna dan bahkan agama. Kira-kira begitu asumsi saya saat itu."

"Saya ingat betapa campur aduknya antara lagu-lagu pujian dan doa-doa Tuhan Kristus dan lainnya, bahkan ritual-ritual yang seakan kita berbicara dengan roh… saya bertambah frustrasi dengan acara-acara ritual yang mereka lakukan dibanding dengan gereja yang sebelumnya saya kunjungi."

Akhirnya ia keluar juga atas ketidaknyamanan itu. Sampailah suatu ketika ia aktif masuk Budha.

"Saya sempat duduk bersama mereka dan melakukan secara keseluruhan kegiatan ritual agama ini. Sangat menarik! Ritual-ritual itu telah menghadirkan getaran-getaran yang indah pada seluruh fisik saya namun hal ini tidak memberikan pengaruh apa-apa. Betul-betul tidak ada apa-apanya. Jujur saja hal itu betul- betul nonsen untuk pribadi saya."

Bulan Oktober 2000, ketika ia berkerja di London Underground di sanalah Aquil berjumpa dengan Ibrahim, yang kemudian menjadi mentornya. Ibrahim pula yang membimbingnya memulai dalam perjalanan Islam.

"Ah, terkadang saya senyum sendiri. Penuh penyesalan di kala saya mengenang masa lalu. Betapa jahiliyah nya saya dan rasa-rasanya tak ada satupun mahluk yang bisa menghentikan saya untuk menghentiakan kebiasaan minum alkohol yang membuat kita sangat tergantung dan kecanduan dengannya," katanya mengenang masa lalunya sebelum beralih pada Islam.

"Padahal saya tahu besoknya saya bakalan hangover (sakit kepala & mual karena minum alkohol berlebihan), tidak bisa bangun, makan dan mengerjakan sesuatu, tapi mengapa tidak pernah kapok dan saya lakukan kembali.

"Entahlah.. ternyata Allah bisa menghentikan semua ini. Dengan pelan pelan saya menghentikan kebiasan minum alkohol. Dimulai dengan mengurangi jumlah yang saya minum. Misalnya dari empat 4 pints (kurang dari ½ lt/1 gelas besar) saya kurangi menjadi 2 pints semalamnya dan akhirny saya berhenti secara total.

"Sebuah perubahan besar terjadi pada diri saya. Luar bisa memang dan saya merasakan perbedaannya. Saya sekarang jauh lebih fit baik secara fisik dan mental. Soal babi dan bacon, kebetulan saya sendiri dari dulunya tidak pernah suka dengan makanan jenis ini. Saya merasa mual setelah memakan makanan ini. Kalau saja saya tahu akan kebenaran pada waktu itu, maka tangan Allah-lah yang telah menunjukan jalan yang sangat penuh misteri untuk saya.

"Saya bersyukur ke khadirat Allah SWT .. kini saya telah resmi memeluk agama Islam setelah melewati jalan yang cukup berliku dan cukup lama.. begitulah Allah telah menakdirkan saya," ujar Aquil menyampaikan rasa syukurnya.

Dengan kebesaran Allah pula, ia kini diberi seorang istri, seorang muallaf, Lin, yang sebelumnya penganut Hindu.

"Kami berdua sama-sama baru dalam menjalankan agama Islam dan sama-sama diselimut oleh semangat yang menggelora serta gairah yang cukup tinggi dalam menjalani Islam sepenuhnya".

Lewat pengajian yang sangat saya cintai dari teman-teman Melayu baik yang Singpaore, Malaysia dan Indonesia dan lainnya, terasa sekali ukhuwah yang mendalam, rasa kebersamaan dan persaudaraan (brotherhood) yang ikhlas yang tidak pernah saya dapatkan dulu kini bisa saya dapatkan disini. Semua ini saya dapatkan hanya dalam Islam ini. Allah Maha Besar.

‘Saya, tak hentinya menyampaikan rasa syukur ke khadirat Ilahi yang telah menuntun dan memberikan jalan yang akhirnya saya temukan yakni Islam. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa saya dimasa lalu. Entahlah, nikmat mana lagi yang hendak kami ingkari’. [

sumber asli : http://www.hidayatullah.com

Rabu, 02 Juli 2008

Gadis Berjilbab Itu Jadi Bintang Tim Sepakbola Perempuan Denmark

imageZainab al-Khatib, muslimah asal Denmark, bisa jadi satu-satunya pemain sepakbola perempuan berjilbab saat ini. Kehadirannya seperti oase di tengah situasi yang masih menghangat akibat kasus pelecehan Rasulullah Saw oleh sejumlah media massa Denmark. Zainab baru-baru ini terpilih untuk memperkuat tim nasional kebelasan sepakbola perempuan Denmark, setelah Danish Football Association (DBU) memberi izin Zainab tetap mengenakan jilbabnya saat berlaga di lapangan hijau. Dan izin itu tidak hanya berlaku di Denmark, tapi juga untuk seluruh wilayah Eropa, jika Zainab memperkuat timnya di luar wilayah Denmark.

Kelihaian Zainab menggiring bola dan mencetak gol-gol yang spektakuler mengundang decak kagum. Tak heran kalau gadis berjilbab itu kini menjadi pusat perhatian para penggemar bola di Denmark. "Saya sangat senang saya bisa menjadi teladan di Denmark, " kata Zainab yang memulai karir sepakbolanya tiga tahun yang lalu.

Ia berhasil mencetak gol dan membawa kemenangan gemilang bagi timnya saat melawan tim Swedia belum lama ini. "Zainab memiliki kepribadian yang kuat, perilakunya selalu positif dan memberikan inspirasi baik di dalam maupun diluar lapangan, " kata pelatih Zainab, Troel Mansa.

"Dia adalah salah satu pemain terbaik saya. Saya senang bisa menjadi pelatihnya, " puji Mansa.

Zainab yang masih berusia 15 tahun itu, kini menempati posisi sebagai penyerang dalam timnya. Ia baru mengenakan jilbab setahun yang lalu. Ibundanyalah yang menolong Zainab mendisain jilbab yang nyaman dipakai saat ia bermain sepakbola.

"Ia memang seorang Muslim yang taat, dan kami layak mendukungnya untuk meraih impiannya dalam bidang olahraga. Saya bangga, Zainab bisa membuktikan bahwa mengenakan jilbab bukan berarti ia kehilangan haknya untuk menekuni olahraga, " kata Ibrahim al-Khatib, ayah Zainab.

Pelatih Zainab, Manas juga mengatakan bahwa jilbab Zainab tidak pernah menjadi kendala. "Kami hanya menaruh minat pada ketrampilan dan kepribadiannya. Saya tidak pernah mendengar ada pemain atau pelatih yang mengungkapkan keberatan tentang jilbabnya, " tukas Manas.

Zainab mengakui bahwa teman-teman satu timnya sangat memberikan dukungan padanya. "Mereka menerima saya, dan saya tidak mengalami hambatan apapun. Waktu tim kami melawan tim Swedia, beberapa pemain tercengang melihat jilbab saya, tapi tak satupun yang menyatakan keberatan, " kata Zainab.

Zainab menganggap masalah jilbab seharusnya tidak perlu diributkan."Saya merasa senang, bisa menyeimbangkan kewajiban agama dengan hobi saya, " sambungnya.

Menurutnya, ia ingin menunjukkan bahwa warga Muslim Denmark ingin berbaur dengan seluruh lapisan masyarakat. "Saya melihat diri saya sendiri sebagai seorang Muslim Denmark yang secara efektif memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangga bisa menjadi wakil negara ini di luar negeri, " tukas gadis keturunan Palestina yang juga aktif di lembaga sosial Islam di kotanya, Odense dan bercita-cita jadi dokter ini.

Zainab beruntung bisa bebas mengenakan jilbabnya tanpa harus kehilangan kesempatan berprestasi di bidang olahraga yang digemarinya. Pasalnya, beberapa muslimah berjilbab tidak seberuntung Zainab.

Pada Maret 2007, International Football Association Board (IFAB) menyatakan jilbab dilarang dalam permainan sepakbola, setelah seorang muslimah berjilbab Kanada dikeluarkan dari tim sepakbolanya karena mengenakan jilbab. Kemudian, pada Januari 2008, seorang muslimah siswa menengah di AS yang juga atlet lari, dikeluarkan dari kompetisi juga karena mengenakan jilbab. Pada November 2007, seorang anak perempuan berusia 11 tahun, dilarang ikut turnamen nasional Yudo di Kanada, karena ia mengenakan jilbab. (ln/iol/eramuslim)

sumber : http://www.swaramuslim.com